Disiplin, Komitmen dan Konsitensi

A. Disiplin 

Disiplin mempunyai makna yang luas dan berbeda – beda, oleh karena itu disiplin mempunyai berbagai macam pengertian. Pengertian tentang
disiplin telah banyak di definisikan dalam berbagai versi oleh para ahli. Ahli
yang satu mempunyai batasan lain apabila dibandingkan dengan ahli lainnya.
Definisi pertama yang berhubungan dengan disiplin diantaranya seperti yang dikemukakan oleh Andi Rasdiyanah (1995 : 28) yaitu kepatuhan
untuk menghormati dan melaksanakan suatu system yang mengharuskan
orang untuk tunduk pada keputusan, perintah atau peraturan yang berlaku.
Dengan kata lain, disiplin adalah kepatuhan mentaati peraturan dan ketentuan
yang telah ditetapkan.
Sedangkan Depdiknas (1992 : 3) disiplin adalah :
“ Tingkat konsistensi dan konsekuen seseorang terhadap suatu komitmen atau
kesepakatan bersama yang berhubungan dengan tujuan yang akan dicapai
waktu dan proses pelaksanaan suatu kegiatan”.
Seirama dengan pendapat tersebut diatas, Hurlock (1978 : 82) mengemukakan pendapatnya tentang disiplin tersebut : “ Disiplin merupakan cara masyarakat mengajar anak berperilaku moral yang disetujui kelompok”.
Dari berbagai macam pendapat tentang definisi disiplin diatas, dapat
diketahui bahwa disiplin merupakan suatu sikap moral siswa yang terbentuk
melalui proses dari serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai – nilai
ketaatan, kepatuhan, keteraturan dan ketertiban berdasarkan acuan nilai moral.
Siswa yang memiliki disiplin akan menunjukkan ketaatan, dan keteraturan terhadap perannya sebagai seorang pelajar yaitu belajar secara terarah dan teratur. Dengan demikian siswa yang berdisiplin akan lebih mampu mengarahkan dan mengendalikan perilakunya. Disiplin memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia terutama siswa dalam hal belajar. Disiplin akan memudahkan siswa dalam belajar secara terarah dan teratur.

Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/psychology/2114586-pengertian-disiplin/#ixzz1lfZtpXYM

Dalam ruang lingkup sekolah, tindakan dan perbuatan kongkrit dari disiplin adalah dengan masuk  dan pulang tepat waktu, karena dengan cara ini masyarakat menilai tentang disiplin disekolah.  kalau sebuah sekolah melaksanakan disiplin dengan cara ini  maka masyarakat mengatakan bahwa sekolah tersebut disiplin. maka sekolah tersebut akan menuju sekolah yang berkualitas.

B. Komitmen

Buchanan (1974) mengatakan bahwa komitmen  diartikan sebagai keikutvsertaan suatu individu terhadap tujuan dan nilai lembaga dengan berdasarkan pada ikatan psikologis antara individu dan nilai lembaga tersebut.  Hartmann dan Bambacas (2000) menyatakan bahwa komitmen  sebagai perasaan memiliki dan menjadi bagian dari organisasi dan telah memiliki hubungan dengan karakteristik pribadi, struktur organisasi dan pengalaman kerja. Komitmen yang tinggi dari setiap individu dapat diidentifikasi dari keterlibatan dalam organisasi dan merasa nyaman sebagai anggota organisasi (Ko, Price, & Mueller, 1997).  Mowday et al., (2001) menyatakan bahwa komitmen adalah suatu hubungan yang kuat antara individu dengan lembaga yang diidentifikasikan dengan keikutsertaannya dalam kegiatan perusahaan atau organisasi. Karyawan yang memiliki komitmen yang tinggi akan bertindak secara konsisten dengan sikap-sikap mereka terhadap organisasi. Tingkat level komitmen yang tinggi kepada organisasi akan mempengaruhi keinginan karyawan untuk tetap berada di organisasi (Aryee & Heeng, 1990), seperti halnya mereka memilih untuk melakukan pekerjaan dengan hati-hati, dan pada tingkat tertentu pada gilirannya akan mempengaruhi kinerja aktual karyawan (Mowday et al., 1982).  Becker (Rhoades et al., 2001) menggambarkan bahwa komitmen afektif sebagai suatu kecenderungan untuk terikat dalam aktivitas organisasi secara konsisten sebagai hasil dari akumulasi investasi yang hilang jika aktivitasnya dihentikan.  Dari beberapa definisi komitmen afektif di atas menunjukkan adanya keterikatan psikologis (psychological attachment) individu dan organisasinya, sehingga individu yang sangat komit terhadap organisasinya tersebut akan melibatkan dirinya secara mendalam pada aktivitas organisasi dan menikmati kegiatannya di organisasi tersebut. Dengan kata lain, ini berarti seseorang bertahan di organisasi karena mereka memang menginginkannya (because they want to). Keinginan untuk tetap tinggal di organisasi sebagai bentuk komitmen dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu dan bisa dibentuk oleh anteseden-antseden yang membantu pembentukkannya.

C. Konsitensi

Konsitensi adalah ketetapan dan kemantapan bertindak, Bahwa ada hasil dari apa yang kita lakukan, sudah menjadi sebuah kesepakatan. Hanya saja, tidak banyak yang menyadari, untuk mendapatkan sebuah hasil, terkadang tidak sesederhana yang kita bayangkan. Banyak jalan berliku dan menanjak yang bisa membuat kita putus asa, mengurungkan niat atau mencoba memulai hal yang lain.

Ada kisah mengenai batu. Sekeras apapun sebuah batu, akan menjadi hancur ‘hanya’ karena tetesan air. Dengan syarat air itu menetes secara terus menerus. Inilah yang mengilhami Imam Ibnu Hajar Al Asqalani-salah seorang ulama dan ahli Hadist terbesar- untuk terus menuntut ilmu di tengah keterbatasan yang dimiliki. Semangat dan konsistensi beliau dalam menuntut ilmu, membuahkan hasil yang spektakuler. Demikian juga yang lain, untuk mendapatkan sebuah hasil diperlukan sikap konsisten.

Berbicara tentang sikap konsisten, menurut KBBI online, mempunyai dua arti:

1 tetap (tidak berubah-ubah); taat asas; ajek;

2 selaras; sesuai: perbuatan hendaknya — dng ucapan.

Mari kita jabarkan dua definisi konsisten diatas. Definisi pertama, konsisten berarti tetap (tidak berubah-ubah); taat asas; ajek; Sebuah sikap mental dalam menghadapi sesuatu-baik yang diinginkan maupun yang tidak diinginkan-yang sifatnya terus menerus. Konsisten lebih luas dari sikap disiplin. Konsisten didasari oleh sebuah paradigma, sedang disiplin didasarkan pada alasan.

Tidak seperti alasan yang mudah berubah karena sebuah informasi, untuk merubah paradigma sangatlah sulit. Sebab, paradigma adalah kerangka yang membentuk pikiran kita dan biasanya dipengaruhi oleh perjalanan hidup. Walaupun begitu betapapun sulitnya, untuk memupuk konsistensi, harus terlebih dahulu merubah dan membentuk paradigma yang dimiliki . Ketika paradigma terbentuk, terbentuklah sebuah alasan yang kuat atau komitmen. Kemudian muncul tindakan. Paradigma adalah air, tetesan adalah tindakan, batu adalah tujuan. Nah semakin kuat paradigma, semakin banyak tetesan yang mengarah ke batu, dan makin besar kemungkinan untuk ‘hancur’.  Hancurnya sebuah batu adalah tercapainya sebuah konstensi displin.

D. Kesimpulan

Dalam sebuah lembaga untuk menciptakan suasana yang tertib dan kondusif dalam hal ini disekolah mesti ada menerapkan dan menanamkan nilai-nilai disiplin kapada siswa dan elemen yang terlibat dalam sekolah, karena disipilin berawal dari kebiasaan-kebiasaan yang positif, jika disiplin sudah menjadi kebiasaan maka para siswa tidak akan terasa berat untuk berdisipilin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s