Etos Kerja Muslim Oleh : Madinah,S.Pd

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ.

وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

Etos Kerja adalah sikap mental dalam menghayati dan menghargai pekerjaan kita. Dengan kata lain, etos kerja adalah semangat dan sikap mental yang selalu berpandangan bahwa kualitas kerja kita di hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin, dan kualitas kerja kita di hari esok harus lebih baik daripada kualitas kerja hari ini.
Islam sangat menghargai etos kerja. Dalam Islam, kerja bukan semata-mata aktivitas pengisi, tidak hanya berdimensi duniawi, bukan sekedar mengejar gaji, mencari untung sebanyak-banyaknya, juga bukan semata-mata menepis gengsi untuk menghindar dari tudingan sebagai pengangguran.

Kesadaran kerja dalam Islam berlandaskan semangat tauhid dan tanggung jawab ketuhanan. Semua aktifitas keseharian seorang mukmin, termasuk kerja harus diniatkan dan berorentasi ibadah kepada Allah SWT. Dengan kata lain, setiap aktivitas yang kita lakukan hakikatnya mencari keridhaan Allah SWT semata. Setiap ibadah kepada Allah harus direalisasikan dalam bentuk tindakan, sehingga bagi seorang muslim aktivitas bekerjapun mengandung nilai ibadah.
Allah SWT. Berfirman : “Dan tidaklah Allah jadikan jin dan manusia itu melainkan untuk mengabdi kepada-Ku.” (Q.S. Ad-Dzariyat : 56)
Islam tidak hanya membuat aturan dalam bekerja, melainkan selalu memberi motivasi agar umat Islam mencari ridzki yang telah ditebarkan Allah diatas dunia ini. Tujuannya agar umat Islam tidak sekedar beribadah dalam arti ritual saja, tapi mempunyai perhatian untuk bekerja sesuai dengan perintah agama.
Bagi seorang muslim, adalah suatu keniscayaan untuk bergiat mencari ridzki. Seorang muslim tidak boleh menggantungkan diri pada orang lain, sedangkan dirinya malas dan enggan berkarya dan bekerja. Namun demikian, tidak berarti seorang muslim boleh menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kebutuhan hidup. Islam adalah agama yang sarat dengan etika, norma-norma, sehingga diharapkan para penganutnyapun menyandang jatidiri umat yang beretika dan bermoral tinggi.
Jika kita bekerja untuk mencari ridzki yang halal, jika ridzki tersebut kita keluarkan pada jalan yang halal, maka ridzki tersebut akan menjadi sumber kebahagian hidup di dunia dan akhirat kelak. Lain sebaliknya. Bila kita bekerja mencari ridzki dengan jalan yang tidak halal, membelanjakannya pada jalan yang haram pula, maka ridzki tersebut akan menjadi sumber penderitaan bagi diri dan keluarga, menyimpan kerugian bagi dunia dan akhiratnya. Ridzki yang diperoleh dari barang yang haram akan menjadi darah dan daging. Bisa memengaruhi perilaku keseharian, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:

“Ketahuilah bahwa di dalam diri manusia itu ada segumpal daging, apabila daging itu baik maka akan baik pula seluruh tubuh, dan apabila daging itu jelek maka jelek pula seluruh tubuh itu, ketahuilah daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari & Muslim).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s