Janji Rahasia yang Dipegang Teguh

Janji Pertemuan yang akan kuhadiri penting sekali, tapi akan datang sudah terlambat sekali dan tersesat pula. dengan mengabaikan gengsiku sebagai lelaki, aku mulai menacari-cari tempat untuk menanyakan jalan,lebih bagus lagi kalau aku bisa menemukan pom bensin. Aku sudah mondar-mandir dalam kota jadi,tangki bensin sudah hampi kosong, padahal waktu tinggal sedikit.

Aku melihat cahaya kuning bersinar di luar markas pemadam kebakaran. Adakah tempat yang lebih baik untuk menanyakan jalan ? Aku bergegas keluar dari mobil,lalu menuju markas tersebut. Tiga buah jendela diatas tersikap dan didalam terlihat beberapa mobil merah pemadam kebakaran dengan pintu terbuka, lapisan logam mengkilat, bersiap-siap menunggu bel berdering.

Saat aku melangkah masuk, aroma tempat itu menyerangku-bau selang yang mengering didalam menara, sepatu bot, jaket, dan helm karet yang semuanya berukuran akstra besar. Bau-bau ini bercampur dengan bau lantai yang baru dipel dan truk yang baru dicuci,mencipntakan aroma misterius yang selalu mengingatkan orang pada markas Pemadam kebakaran. sambil memperlambat langkah, aku menghela napas, memejamkan mata, dan terbawa kembali ke masa kecilku, kemarkas pemadam kebakaran tempat ayahku bekerja selama 55 tahun sebagai kepala pasukan pemadam kebakaran.Aku melihat keujung markas dan disitu terpancang tiang api yang menjulang tinggi, mengkilat keemasan. Suatu hari ayahku membolehkan aku dan kakakku Jay meluncur turun pada tiang itu, dua kali. Disudut markas tampak bangku dorong pendek, yang akan mengatakan, “Pegang kuat-kuat” lalu memutar tubuh sampai aku merasa pusing. rasa lebih asyik dari pada jet-coaster yang pernah kunaiki.

Disebelah bangku dorong itu tampak mesin minuman yang sudah tua, berlambang logo Coca-cola klasik. Mesin menyedia botol Coca-cola yang asli seberat 10 ons, hanya saja sekarang harga 35 sen, bukan 10 sen seperti pada waktu itu. Mengambil minuman dari mesin itu selalu menjadi puncak acara setiap kali mengunjungi Ayah di markasnya.

Waktu aku berumur 10 tahun, aku dua mengajak dua teman-ku kemarkas untuk membanggakan ayahku dan mencoba memintanya membeli cola buat kami. setelah mengajak melihat -lihat markas, aku bertanya pada ayah, maukah dia membeli kami sebotol cola seorang sebelum kami pulang makan siang.

Aku menangkap sedikit nada keraguan dalam suara ayahku hari itu, tapi dia mengatakan, “Boleh” lalu memberi kami 10 sen seoarang. Kami berlomba lari ke mesin minuman itu untuk melihat kalau-kalau botol kami memiliki tutup bergambar bintang didalamnya kami akhirnya tak tertahankan lagi olehnya. Pada sore ulang tahun pernikahan orang tua yang ke-25, dengan keliling oleh seluruh keluarga, ayahku, yang selama ini kami anggap manusia paling kuat tenaganya, menunjukkan kelemahan pertamanya tak pernah terpikirkan oleh kami anak-anaknya.

Selama delapan tahun berikutnya, ayahku berjuang keras melawan tiga serangan jantung lagi, sampai akhirnya ia terpaksa menggunakan sebuah pacu jantung.

Suatu sore, mobil Plymoout biru tua memiliki ayahku mogok, dan meneleponku untuk mengantarnya ke dokter untuk chek-up tahunan. Waktu aku berhenti di markas, aku melihat ayahku diluar bersama semua petugas pemadam kebakaran lainnya, mengerumuni sebuah truk pickup baru. sebuah Pickup Ford berwarna biru tua, dan kelihatan bagus sekali. Aku mengatakan pada Ayah, betapa bagusnya truk itu seperti itu.

Kami berdua tertawa. itu sudah lama jadi impiannya dan sepertinya selalu tak pernah terwujud.

Pada waktu itu, kehidupan pribadiku sudah lumayan dalam bisnis, juga semua saudaraku. Kami menawarkan untuk membeli sebuah truk untuknya. tapi ia dengan tegas mengatakan “kalau bukan Ayah yang beli, rasanya bukan milik Ayah”

Saat ayahku keluar dari kamar periksa dokter, kusangka wajah murungnya itu akibat tadi ia ditusuk dan lubangi dengan jarum suntik.

“Ayo,” cuma katanya.

Ketika kami masuk mobil, aku tahu ada masalah. Kami melaju tanpa bersuara dan tahu Ayah akan memberitahukan masalahnya dengan cara sendiri.

Aku mengambil rute yang jauh untuk kembali ke markas. Ketika kami melewati rumah kami yang lama, lapangan bola, danau dan toko di tikungan, ayahku mulai mengobrolkan masa lalu dan kenangan yang dialaminya di setiap tempat itu.

Saat itulah aku sadar bahwa ayahku tidak akan berumur panjang.

Dia menoleh padaku dan mengangguk.

Aku mengerti.

Kami mampir di Warung Es Krim Cabot dan makan es krim berdua untuk pertama kali setelah 15 tahun berselang. Kami berbincang-bincang lama sekali hari itu. Dia memberi tahu betapa bangganya ia akan kami semua dan bahwa ia tak takut mati. Ia hanya khawatir harus meninggalkan ibuku.

Aku tertawa; pernah aku melihat lelaki begitu mencintai seorang wanita seperti ayahku.

Ia membuatku berjanji waktu itu untuk tidak memberi tahu siapa-siapa bahwa dia akan mati. Tatkala aku memenuhi permintaannya, aku tahu bahwa rahasia adalah salah satu rahasia yang paling sulit dipegang teguh.

Saat itu, aku dan istriku sedang mencari mobil atau truk baru. Ayahku kenal dengan seorang wiraniaga di Cochituate Motor di Wayland, Jadi aku menanyakan, apakah ia mau menemaniku untuk membeli mobil atau truk baru dengan cara tukar tambah.

Pada waktu kami masuk ruang pamer, dan aku mulai berbicara dengan si pedagang, ku lihat Ayah mengagumi sebuah truk pickup berwarna coklat metalik yang paling indah yang pernah kami lihat. ku lihat ia mengelus-elus truk itu seperti seorang pemahat memeriksa karya.

“Ayah, seperti aku lebih baik membeli truk saja.

Aku ingin melihat truk yang agak kecil, yang irit pemakaian bensin.”

Saat pedagang berlalu untuk mengambilkan plat mobil percobaan, aku mengusulkan untuk mencoba mengendari truk coklat yang dikaguminya itu.

“Kamu tahu itu, dan Ayah tahu itu, si pedagang kan tidak tahu,” katanya.

“Aku tahu itu, dan Ayahku tahu itu, tapi si pedagang kan tidak tahu,” kataku.

Pada saat kami melaju memasuki Route 27, dengan ayahku di belakang kemudi, kami tertawa-tertawa, seperti dua orang anak kecil yang baru berhasil lolos setelah berbuat nakal. Ia mengemudi selama 10 menit,sambil mengomentari betapa mulusnya jalan truk itu, sementara aku bermain-main dengan pernak-pernik truk itu.

Saat kami kembali ke ruang pamer, kami kemudian mencoba sebuah truk Sundowner kecil warna biru. Ayahku berkomentar bahwa truk ini lebih baik untuk perjalanan bolak balik karena aku akan sering memakainya dan besinnya irit. Aku setuju dengannya dan kami kembali untuk merampungkan pembelian truk itu dengan si pedangang.

Aku menelepon ayahku beberapa malam kemudian dan mengajaknya mengambil truk tersebut. Menurut perkiraanku, ia setuju karena ingin melihat lagi ” truk coklatnya” begitu ia menamakan truk itu.

Saat kami masuk kehalaman toko mobil, terlihat Sundowner biru kecil milikku yang ditempeli sticker tanda sudah terjual. Disebelahnya terdapat pickup coklatnya itu, sudah di cuci dan tampak mengkilap, dengan tanda TERJUAL besar tertempel di jendelanya.

Aku melirik pada ayahku dan melihat rasa kecewa di wajahnya saat ia berkata ” Wah, truk itu sudah dibeli orang”

Aku hanya mengangguk dan berkata, “Ayah masuk dulu saja. Aku mau parkir mobil. Bilang saja pada pada si penjual, aku akan menyusul sebentar lagi. ” Pada saat ayahku berjalan melewati truk coklat itu, ia mengelusnya lagi, dan aku dapat melihat raut kecewa diwajahnya lagi.

Aku memarkir mobil diujung gedung dan melihat keluar jendela pada lelaki yang telah mengorbankan segalanya untuk keluarganya. Aku memperhatikan si pedagang mempersilahkannya duduk, menyerahkan serenceng kunci untuk truk-yang coklat-dan menjelaskan bahwa truk itu untuknya dariku dan ini rahasia kami.

Ayahku menoleh keluar jendela,mata kami bertemu, dan kami berdua mengangguk dan sama-sama tertawa.

Aku sedang menunggu di luar rumahku saat ayahku mampir malam itu. Saat ia keluar dari truknya, aku memeluk dan menciumnya dan mengatakan betapa aku mencintainya. dan mengingatkannya bahwa ini rahasia kami.

Kami jalan-jalan mengendari truk itu. Ayah mengatakan, ia mengerti soal truk itu.  tapi apa maksud tutup botol Coca-cola bergambar bintang ditengahnya, yang ditempel pada kemudi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s